Senin, 01 Oktober 2012

Adat Sepintu Sedulang di Bangka

Adat Tradisional Indonesia Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki kekayaan yang berlimpah seputar kebudayaan. Ada sekitar ribuan kebudayaan yang tersebar dari sabang sampai marauke. Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan dan adat istiadat nya tersendiri. Selain pantai, Bangka juga dikenal dengan keragaman budayanya. Dari budaya lokal hingga budaya “Import” yang dibawa para pendatang. Keragaman budaya inilah yang belakangan menjadi aset penting untuk mengembangkan pariwisata. Pulau Bangka yang dikelilingi lautan, laksana surga-surga bagi para nelayan. Itulah secuil cermin tentang kebudayaan nelayan di pulau yang dulu dikenal sebagai penghasil timah. Dalam perkembangannya, latar belakang masyarakat Bangka yang sebagian besar nelayan itu, ternyata turut mempengaruhi pertumbuhan kebudayaan lokal. Meski saat ini pola hidup masyarakat Bangka telah mulai bergeser, kebudayaan lokal yang mengandung unsur nelayan masih tetap kental mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Paling tidak saat ini ada dua event budaya besar yang berhubungan dengan nelayan, yakni, upacara rebo kasan dan buang jong. Selain itu ada ritual-ritual budaya yang dipengaruhi unsur religi, sementara pertunjukan kesenian Barongsai mewakili kebudayaan masyarakat pendatang (Tionghoa) Tapi diantara banyak ritual budaya di Bangka, upacara sepintu sedulang boleh jadi memiliki makna yang khusus. Inilah ritual yang menggambarkan persatuan masyarakat Bangka. Sepintu Sedulang Kata sepintu sedulang adalah semboyan dan motto masyarakat Bangka yang bermakna adanya persatuan dan kesatuan serta gotong royong. Ritual ini adalah satu kegiatan penduduk pulau Bangka pada waktu pesta kampung membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu tau siapa saja di balai adat. Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang. Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar. Selain itu juga ada berbagai macam kebudayaan dan adat istiadat bangka antara lain : • Rebo kasan • Buang Joang • Ceriak Nerang • Perang Ketupat • Mandi Belimau serta, • Kawin Masal Menurut analisa dari adat istiadat di Bangka maka hal tersebut tercantum norma kesusilaan dan norma kesopanan. Norma kesusilaan didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Norma manusia bersifat universal. Artinya setiap orang di dunia ini memilikinya, hanya bentuk perwujudannya saja yang berbeda. Sedangkan norma kesopanan adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat di daerah tersebut. Sumber : http://merito.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar